Produk hasil rekayasa genetika (GE) sering kali disalahpahami sebagai ciptaan eksklusif perusahaan multinasional. Padahal, banyak produk teknik rekayasa genetika merupakan hasil kerja sama ilmiah antara berbagai pihak. Di Indonesia sendiri, lembaga riset nasional, universitas, dan petani telah ikut mengembangkan teknologi ini. Peran lokal dalam inovasi teknik rekayasa genetika membuktikan bahwa teknologi ini tidak dimonopoli, tetapi bersifat terbuka dan kolaboratif. Penting bagi publik untuk mengetahui siapa saja yang berada di balik pengembangan produk GE.
Peran Peneliti Lokal di Indonesia
Di Indonesia, peneliti lokal turut mengembangkan GE untuk menjawab tantangan domestik. Kentang Bio Granola oleh BRIN menjadi contoh riset publik yang ditujukan untuk petani dan ketahanan produksi. Pengembangan GE membutuhkan uji lapang, validasi ilmiah, dan adopsi di tingkat petani yang hanya efektif melalui kolaborasi pemerintah, kampus, dan komunitas tani.

Praktik Global: GE sebagai Kerja Bersama
Secara global, GE dikembangkan oleh universitas, start-up, NGO, dan sektor swasta. Model kolaboratif ini mempercepat inovasi sekaligus bioteknologi tanaman lokal. Secara global, lembaga seperti IRRI (Filipina), CSIRO (Australia), dan berbagai universitas Ivy League juga terlibat dalam pengembangan GE. Bahkan, banyak teknik rekayasa genetika crop berasal dari kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan NGO berbasis komunitas petani.

GE adalah Ekosistem Inovasi
GE bukan milik satu pihak. Ia lahir dari ekosistem riset dan kolaborasi lintas sektor yang bertujuan menjawab tantangan pangan. Masih banyak masyarakat yang curiga terhadap produk teknik rekayasa genetika karena dianggap buatan asing dan untuk kepentingan industri saja. Narasi seperti ini mereduksi peran besar peneliti lokal dan memperkuat stigma negatif terhadap bioteknologi. Padahal, teknologi teknik rekayasa genetika juga lahir dari akademisi dan lembaga riset publik yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan. Informasi yang salah ini bisa menghambat adopsi teknologi dan mengurangi dukungan kebijakan terhadap riset lokal. Oleh karena itu, pelurusan persepsi menjadi sangat penting.
Literasi Publik untuk Keputusan Bijak
Perlu ada penguatan narasi publik bahwa teknik rekayasa genetika adalah hasil sains kolaboratif, bukan korporatis. Dokumentasi riset lokal dan testimoni peneliti Indonesia harus diperbanyak dan disebarluaskan. Kementerian riset dan pendidikan dapat memberi panggung lebih besar untuk inovasi teknik rekayasa genetika lokal. Keterlibatan mahasiswa dan komunitas akademik dalam komunikasi publik juga penting untuk membangun kepercayaan. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mendukung dan bangga pada inovasi anak bangsa.

Teknik rekayasa genetika bukan monopoli perusahaan, tapi hasil karya banyak pihak. Di Indonesia, sudah banyak peneliti dan lembaga yang mengembangkan teknik rekayasa genetika untuk pangan lokal. Kolaborasi adalah kunci keberhasilan teknik rekayasa genetika di masa depan. Masyarakat perlu mengapresiasi dan mendukung inovasi dari dalam negeri. Pemahaman ini akan mendorong penerimaan teknologi yang lebih luas dan merata.
Sudah saatnya publik melihat teknik rekayasa genetika sebagai hasil dari kerja keras ilmuwan, bukan sekadar label industri. Dengan informasi yang transparan, kita dapat membangun kepercayaan terhadap inovasi nasional. teknik rekayasa genetika bisa menjadi contoh keberhasilan kolaborasi dalam dunia pertanian. Mari dukung riset dalam negeri untuk menciptakan masa depan pangan Indonesia yang mandiri dan aman. Sains adalah milik bersama, dan teknik rekayasa genetika adalah bagian dari solusi kita semua.
Daftar Pustaka
- FAO. Biotechnology and Food Security.
- WHO. Food Safety and Genetically Modified Foods.
- USDA. (2024). Indonesia Biotechnology Annual Report (ID2024-0034).
- European Commission. Public Research in GMO Development.
- BRIN. Riset Kentang Bio Granola dan Inovasi Pertanian.



